LAMPUNG SELATAN, DUTANEWS.ID. – Bicara tentang tumpukan sampah adalah hal yang tabu bagi setiap orang. Apalagi harus untuk bersekutu dan berbaur sehari-hari dengan kotoran yang menjijikkan tersebut.
Namun ini tidak bagi Muherwan Murod. SE,. Warga Kelurahan Kalianda, Kecamatan Kalianda ini, justru menjadikan sampah bagian dari pengabdiannya sebagai Plt. Kabid Persampahan dan LB3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lampung Selatan.
Di tengah kondisi yang kerap dijauhi banyak orang. Mantan Kepala UPT Pengelolaan Sampah (LB3) Kecamatan Bakauheni ini memilih berada di garis depan, memastikan kebersihan lingkungan tetap terjaga.
Bahkan, bagi Pejabat Eselon III.b Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan ini, mengurus sampah bukan hanya sekadar rutinitas kerja, melainkan tanggung jawab yang harus ditunaikan demi menjaga kebersihan dan kesehatan di lingkungan Kabupaten Lampung Selatan.
“Ini semua sudah menjadi kewajiban, artinya mau tidak mau dan suka tidak suka harus dijalani,” ujar Muherwan beserta tim nya, ketika tertangkap dutanews.id., saat mengangkut sampah di wilayah Kecamatan Sidomulyo, baru-baru ini.
Dedikasi Muherwan tidak mengenal waktu. Saat akhir pekan tepatnya Sabtu dan Minggu, yang biasanya menjadi waktu istirahat bagi setiap Aparatur Sipil Negara, tapi Muherwan justru tetap turun memastikan sampah di berbagai titik terangkut dengan baik.
Ia bahkan kerap terlihat langsung mengemudikan dump truck bersama tim kebersihan, menyisir jalan protokol hingga kawasan perkantoran Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.
Pengabdiannya semakin terlihat saat momentum bulan suci Ramadan hingga Idulfitri 1447 Hijriah lalu, ketika banyak orang berkumpul bersama keluarga merayakan hari raya besar tersebut, Muherwan dan tim justru tetap siaga menjaga kebersihan Kota Kalianda.
“Waktu malam takbiran kemarin, kami bersama puluhan petugas membersihkan sampah di jalan protokol dan sekitar kantor bupati sampai pukul 03.00 WIB,” katanya.
Menurutnya, hari-hari besar justru menjadi tantangan tersendiri karena volume sampah meningkat signifikan. Meski begitu, ia dan tim tetap berkomitmen memberikan pelayanan maksimal.
“Ini sudah konsekuensi pekerjaan kami. Saat Lebaran, sampah pasti meningkat, jadi kami harus lebih siaga,” tambahnya.
Sayangnya, di balik kerja keras tersebut Muherwan harus menghadapi berbagai sorotan, termasuk pemberitaan yang menyudutkan dirinya tidak becus bekerja. Kendati demikian, dirinya tetap memilih fokus pada tugas dan kewajibannya.
“Biarkan saja. Nanti akan terlihat sendiri apakah saya bekerja sungguh-sungguh atau tidak,” ucapnya dengan tenang.
Mengutip hal ini disimpulkan kisah Muherwan menjadi pengingat keras, bahwa di balik sesuatu yang sering dianggap kotor ada dedikasi dan kerja yang tulus dan jarang terlihat.
Mereka bekerja dalam sunyi yang justru menjadi garda terdepan dalam menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat bagi masyarakat. (HB)
