
Namun tak ada yang tahu, di tengah dentuman musik, suara gesekan sapu mereka nyaris tak terdengar. Bunyi tong sampah yang dibuka – tutup yang tertelan riuhnya festival, justru di situlah letak dedikasi mereka bekerja meski tak ada yang memperhatikan.
Dan menariknya lagi, tahun ini DLH Lampung Selatan memilih tidak membuka stand pameran di area festival. Itu semua bukan karena tidak siap, tetapi karena mereka ingin fokus penuh pada tugas inti mereka, menjaga kebersihan, sejalan dengan program Bupati Radityo Egi Pratama, yakni (ABRI) Asri, Bersih, Rapi, dan Indah.
Sebagai gantinya, mereka membuka Posko Kebersihan, yang merupakan sebuah titik kecil namun vital, tempat instruksi cepat diberikan, personel dirotasi, dan laporan masuk nyaris setiap menit.
“Memang kami mungkin tidak punya stand pameran, tapi kami punya Posko Kebersihan. Kalau ada sampah menumpuk, petugas langsung meluncur,” kata Muherwan.
Ketika Lampu Padam dan Musik Berhenti, Mereka Masih Tetap Tinggal
Pada malam terakhir festival, disitulah ketika ribuan pengunjung beranjak pulang, para petugas kebersihan justru masih bekerja, mereka menyapu langkah terakhir pengunjung, memastikan tak ada satu pun sampah tertinggal.
Ya,.!! Lamsel Fest 2025 mungkin telah ditutup dengan spektakuler.
Tetapi keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh panggung dan keramaian, melainkan juga oleh tangan-tangan yang bekerja diam – diam, tanpa panggung dan juga tanpa sorotan. Siapakah pahlawan tanpa sorotan itu? Mereka adalah para petugas kebersihan DLH Lampung Selatan. (Habibi)