Lampung Selatan, dutanews.id – Derai tawa dan tepukan tangan siang itu, menggema di Aula SMA Negeri 2 Kalianda, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, pada Selasa (23/9/2025).
Ratusan pelajar tampak antusias menirukan gerakan lembut namun tegas dari para pelatih tari. Di antara barisan itu, beberapa wajah tampak berseri-seri ketika topeng berwarna-warni Tuping 12 Wajah diserahkan ke tangan mereka.
Di tengah riuhnya semangat muda itu, hadir sosok yang ikut larut dalam kebahagiaan Zita Anjani, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lampung Selatan sekaligus Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata.
Ia datang bukan sekadar memberi sambutan, melainkan menari bersama, berbagi energi dengan para siswa. “Saya bangga sekali melihat semangat adik-adik hari ini,” ujarnya sambil tersenyum. “Tari Tuping 12 Wajah dan Tari Kiamat adalah warisan leluhur kita. Kalau bukan kalian yang menjaga, siapa lagi?” ujar Zita Anjani.
Sorak-sorai siswa pun pecah ketika Zita turun ke lantai aula dan ikut menari Bedana bersama 200 siswi. Langkahnya mengikuti irama gamolan yang mengalun, menghadirkan pemandangan yang hangat dan penuh makna: pemimpin dan generasi muda bersatu dalam satu tarian tradisi.
Namun di balik kemeriahan itu, tersimpan pesan yang lebih dalam. Tari Tuping bukan sekadar tarian dengan topeng. Ia adalah simbol kehidupan, menggambarkan ragam watak manusia dan nilai-nilai yang hidup di masyarakat Lampung Selatan. Selama bertahun-tahun, tarian ini hanya tampil di acara-acara adat — hingga kini, perlahan, ia kembali menemukan panggungnya di sekolah-sekolah.
Menurut Zita, pelatihan tari seperti ini bukan hanya kegiatan seni, tapi juga bagian dari pendidikan karakter dan kebanggaan daerah.
“Melalui tari, anak-anak belajar tentang disiplin, kekompakan, dan cinta budaya. Tahun depan, kita ingin 1.000 penari tampil di Festival HUT Lampung Selatan. Ini akan jadi perayaan budaya yang luar biasa,” katanya penuh semangat.
Di sisi lain, Plt Kepala Dinas Pariwisata Lampung Selatan, Intji Indriati, menyebut bahwa kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 22–24 September 2025 itu, merupakan bagian dari program Agro Eduwisata yang dicanangkan Bupati Lampung Selatan. Program ini memadukan pelestarian budaya dengan pendidikan dan pariwisata berbasis kearifan lokal.
“Kami ingin budaya tidak berhenti di panggung, tapi hidup di ruang belajar,” ujar Intji. “Anak-anak ini nantinya bisa menjadi agen budaya yang mengenalkan Tari Tuping kepada teman-temannya, bahkan ke dunia luar.”
Sore mulai turun di Kalianda ketika pelatihan hari itu usai. Para pelajar masih berkumpul di halaman sekolah, sebagian mencoba ulang gerakan yang baru mereka pelajari.
Di tangan mereka, tuping tampak bersinar disapu cahaya matahari, seolah menandakan babak baru kebangkitan seni tradisional Lampung Selatan.
Karena dari ruang-ruang sekolah inilah, warisan leluhur itu kembali hidup, menari bersama semangat muda yang tak pernah padam. (**)
