
Lampung Selatan, dutanews.id, – Lampung Selatan, dutanews.id, – PT. Juang Jaya Abdi Alam (JJAA) bekerja sama dengan Dinas Peternakan Kabupaten Lampung Selatan dan seluruh Perangkat Desa Kecamatan Sidomulyo, melakukan sosialisasi dan vaksinasi (Virus) Lumpy Skin Diseases (LSD)”.
Dilaksanakan sosialisasi dan vaksinasi (Virus) – (LSD) oleh perusahaan yang berada di Desa Kotadalam Kecamatan Sidomulyo ini, menindaklanjuti Surat Edaran Pemerintah Provinsi Lampung nomor : 524 / 1065 / V. 23 / 2023 tanggal 13 Maret 2023, tentang “Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Penyakit (Virus) – (LSD)”.
“Selain menindaklajuti SE Pemprov Lampung, tujuan kegiatan ini dalam mencegah penyebaran virus LSD yang dikhawatirkan menyerang hewan piaran ternak sapi dan kerbau milik peternak masyarakat serta milik PT. JJAA,” kata General Manager PT. JJAA William E.L Bulo, melalui Manager General Affair Thamaroni Usman, kepada dutanews, Selasa (11/4/2023).
Warga Kelurahan Raja Basa Kota Bandar Lampung itu menjelaskan, untuk virus LSD tersebut sejauh ini memang belum menyerang hewan piaran milik peternak masyarakat beserta milik perusahaan PT. JJAA. “Kendati demikian, namun perlu adanya kewaspadaan terhadap virus ini, karena sangat berbahaya,” terangnya.
Disisi lain, Manager Kesejahteraan dan Kesehatan Hewan PT. JJAA Drh. Neny Lumbantoruan mengatakan, pihaknya telah membentuk tim penanganan pencegahan virus LSD. “Untuk tim sudah dibentuk, jumlahnya ada tiga tim,” jelasnya, sembari mengaku sebagai koordinator kegiatan tersebut.
Dikatakannya, pelaksanaan penyuluhan sosialisasi dan vaksinasi (Virus) – (LSD) telah diawali sejak tanggal 17 Maret 2023 lalu hingga saat ini yang diikuti dengan vaksinasi pada sepuluh desa di Kecamatan Sidomulyo.
Diantaranya, peternak masyarakat Desa Kotadalam, Sukabanjar, Budidaya, Suak, Siring Jaha, Seloretno, Suka Maju, Banjar Suri, Campang Tiga dan Talang Baru. Neny menuturkan, kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian PT. JJAA kepada peternak sapi dan kerbau dengan terlibat dalam upaya mencegah penyakit (virus) LSD.
Sebab menurutnya, meski virus LSD tidak bersifat zoonosis serta tidak menular terhadap manusia. Namun dampak bahaya dari virus ini bisa menyebabkan infeksi yang berat terhadap hewan sapi dan kerbau.
Seperti, terdapat kerusakan pada kulit sapi yang menembus sampai ke otot atau daging, sehingga menyebabkan sebagian dari daging sapi menjadi rusak. Selain itu, infeksi virus LSD ini juga dapat menyerang hingga ke organ reproduksi sapi dan kerbau.
Lebih jauh wanita hitam manis ini menjelaskan, jika virus LSD ini tidak segera dilakukan pencegahan, tentunya dapat menganggu upaya pemerintah dalam meningkatkan populasi sapi dan kerbau di Indonesia. “Oleh sebab itu, melalui upaya pencegahan ini, harapan kami kepada peternak masyarakat di Kecamatan Sidomulyo dapat terlindungi dari kerugian ekonomi yang besar,” ungkapnya.
Untuk diketahui, virus Lumpy Skin Disease (LSD) merupakan penyakit infeksius yang disebabkan oleh capripox virus, penyakit ini pertama kali ditemukan tahun 1929 di Afrika bagian Selatan dan hanya menyerang hewan sapi dan kerbau. Sedangkan kali pertama ditemukan di Indonesia, yakni di Provinsi Riau pada pertengahan bulan Februari 2022 lalu. Sejak munculnya keberadaan virus LSD tersebut, peternak sapi dan kerbau dihadapkan pada ancaman dan tantangan besar untuk menanganinya. (Habibi)